Dahulu, minggu-minggu menjelang Idul Adha di Gaza adalah waktu yang paling bising sekaligus paling dirindukan. Suara anak-anak yang berlarian di pasar hewan, aroma kue Maamoul yang dipanggang di setiap sudut gang, hingga riuhnya tawar-menawar di pasar tradisional menjadi simfoni tahunan yang indah.
Namun, pada Idul Adha 2026, simfoni itu telah berganti. Blokade yang kian mencekik dan infrastruktur yang luluh lantak telah mengubah wajah perayaan di tanah para nabi ini.
Pasar yang Kini Menepi
Jika dulu pasar hewan di Shuja’iyya dipenuhi dengan ternak gemuk hasil peternakan lokal, kini area tersebut hanyalah hamparan puing. Kelangkaan pakan ternak dan air bersih akibat blokade panjang membuat peternak lokal kesulitan mempertahankan jumlah hewan mereka.

“Kami merindukan bau pasar yang ramai, bukan bau asap dari reruntuhan,” ujar salah satu warga lokal yang kini tinggal di tenda pengungsian.
Merayakan Kurban di Tengah Reruntuhan
Meskipun suasana fisik telah berubah, semangat warga Gaza untuk menghidupkan Sunnah Ibrahim tidak pernah padam. Inilah cara mereka merayakan kurban di tengah segala keterbatasan:
- Penyembelihan Kolektif di Area Pengungsian: Karena tidak ada lagi halaman rumah yang luas, prosesi kurban seringkali dilakukan di dekat kamp-kamp pengungsian agar distribusinya bisa langsung menyentuh mereka yang paling lapar.
- Dapur Umum sebagai Pusat Kebahagiaan: Daging kurban tidak dibawa pulang ke rumah masing-masing untuk disimpan di lemari es (yang kini tidak berfungsi karena ketiadaan listrik), melainkan langsung diolah di dapur umum untuk dibagikan dalam bentuk makanan siap saji.
- Keceriaan Sederhana Anak-Anak: Meski tanpa baju baru, anak-anak Gaza tetap berkumpul. Bagi mereka, sepotong daging di hari raya adalah hadiah terbesar yang melampaui mainan apa pun.
Mengapa Tradisi Ini Harus Kita Jaga?
Kehilangan tradisi bukan berarti kehilangan iman. Justru di tengah blokade, Idul Adha menjadi simbol perlawanan melalui kebaikan. Setiap hewan kurban yang datang dari saudaranya di belahan dunia lain—termasuk Indonesia—adalah bukti bahwa blokade tersebut gagal memutus tali persaudaraan Islam.
Tahun ini, Kurban Palestina 2026 bukan sekadar ritual menyembelih hewan. Ini adalah misi untuk mengembalikan sedikit dari tradisi mereka yang hilang. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa meski pasar mereka sepi, dapur mereka tetap berasap.
Hidupkan Kembali Senyum Mereka

Jangan biarkan tradisi Idul Adha di Gaza benar-benar hilang. Melalui MPA Indonesia, Anda bisa mengirimkan harapan dalam bentuk paket kurban yang akan didistribusikan langsung ke wilayah-wilayah paling terdampak di Gaza.
Mari pastikan Idul Adha tahun ini tetap memiliki arti bagi mereka.

